Di jagat politik nasional, namanya belum terlalu tenar. Namun pemuda ini sangat populer di kalangan aktivis dan pembela hak-hak masyarakat yang terpinggirkan.
Titimangsa 11 Maret 2016 menjadi tonggak sejarah bagi Eki Pitung yang mendeklarasikan sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta. Dia memilih Pendopo Masjid Pitung, Marunda, Cilincing Jakarta Utara sebagai tempat deklarasi. Selain memiliki nilai hostoris tinggi, Masjid Pitung menyimpan nilai-nilai sakral keagamaan.
Sebagai warga Betawi, Eki Pitung terpangggil tidak hanya ingin memperbaiki nasib warga Betawi tetapi yang utama adalah membangun Jakarta yang paripurna, tidak parsial dan tidak pilih kasih. “Kenapa saya memilih tanggal dan bulan itu? Tentu karena sarat dengan makna. Itu adalah peristiwa sangat bersejarah, sebuah pergerakan dan juga peralihan. Sebelas Maret juga bisa disingkat Semar. Tokoh pewayangan yang bijak bestari,” ujarnya berfilsafat.
Pria yang kerap berpeci merah ini mengaku pendeklarasiannya yang digelar di Rumah si Pitung yang legendaris, tidaklah bisa diangggap terlambat. Hal ini merupakan bagian dari skenario yang dibuatnya. “Untuk apa kita terburu-buru kalau hanya akan menjadi bulan-bulanan kampanye negatif,” katanya.













