“Tapi saya pun percaya lama-lama media pun akan mencapai titik balik karena jenuh sendiri dengan agenda pemberitaan yang tidak berimbang seperti sekarang ini. Saya percaya itu.”
Eki Pitung membantah, maju sebagai bakal calon gubenur hanya akal-akalan untuk mendulang popularitas. Apalagi ada yang menilai pilkada DKI Jakarta dianggap sebagai panggung untuk mengangkat nama untuk tujuan politik tertentu. “Jauhkan pikiran itu. Saya maju sebagai bakal calon karena saya punya niat, punya konsep dan juga punya keberanian,” ucap cucu jawara Betawi yang legendaris, si Pitung.
“Ahok itu dianggap sakti, Yusril dinilai hebat. Nah, saya ini adalah berani. Untuk apa sakti atau hebat kalau tidak berani. Buktinya sampai kini Ahok dan juga Yusril belum juga berani mendeklarasikan diri menjadi calon gubernur,” tambah Eki Pitung memberi alasan.
Menurutnya, sangat tidak tahu diri kalau dirinya mencalonkan sebagai gubernur di Papua atau di Semarang. Tapi sebaliknya kalau Eki Pitung mencalonkan diri di Jakarta, keterlaluan bila ada yang menilainya tidak pantas. “Ini tanah leluhur gue. Ini daerah gue. Ini daerah permainan gue. Boleh dong gue berkiprah di wilayah sendiri,” ujarnya bela diri.
Karena itu, pria berusia 45 tahun ini sangat senang bila calon-calon lainnya pada sibuk mencitrakan dirinya sebagai orang Jakarta dan bahkan merasa sebagai pembela orang Betawi. Karena saking semangatnya, bisa-bisa terpleset dan keseleo lidah. “Bagi saya Betawi itu tidak perlu dibela tetapi hanya perlu afirmasi dari pemerintah seperti halnya suku Aborigin di Australia,” ujarnya.













