“Buktinya sudah ada kandidat yang mulai terpleset dan mengatakan orang Betawi itu bodoh,” Eki Pitung mencontohkan.
Eki Pitung memang lebih banyak di lapangan daripada mencitrakan diri di media atau televisi. Eki Pitung percaya dengan konsep cangkang pisang. “Lebih banyak tampil dan tidak mawas diri bisa-bisa malah kepleset cangkang pisang seperti di kemeriahan atau di acara kondangan. Sudah begitu cangkang pisangnya yang sudah mateng dan kucel sehingga licin banget,” ujarnya sambil berseloroh.
Eki Pitung pun sudah membentuk tim kampanye yang dibagi-bagi sesuai namanya yang unik. Misalnya ada Tim Cangkang Pisang, Tim Warteg dan Tim Nasi Uduk. Tim Nasi Uduk mencitrakan Betawi dan Tim Warteg sebagai representasi Jawa. “Ini bukan main-main tapi sarat filosofis,” ujarnya.
Eki Pitung juga berharap Jakarta seperti Bali. Artinya, kota ini harus memiliki identitas yang jelas. “Coba sekarang kalau turis asing mau mencari cinderamata Betawi di bandara atau di tempat lainnya di Jakarta, sulit menemukannya,” tuturnya.
Karena itu, harus ada gubernur yang peduli dengan kearifan local dan budaya Betawi. Hal ini sangat penting agar budaya Betawi terus terjaga dan terpelihara dengan baik sehingga tidak lekang ditelan jaman. “Bila saya terpilih menjadi gubernur, saya pun akan menghidupkan dan melestarikan budaya dan kearifan lokal di wilayah Jakarta ini. Bukan hanya Betawi. Jakarta ini sangat beragam lihat saja ada Kampung Ambon, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Melayu dan banyak lagi. Belum lagi peninggalan bersejarah. Kalau masalah ekonomi dan masalah jasa itu kan ada yang ngurus karena Jakarta ini kan Ibu Kota Republik Indonesia,” pungkasnya. (ecyinthia)













