Konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama, naik 4,97 persen (y-o-y), didorong momen Lebaran dan libur sekolah.
Investasi juga melonjak signifikan 6,99 persen (y-o-y), terutama pada sektor mesin dan peralatan, seiring meningkatnya impor barang modal.
“Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), konsumsi di kategori leisure, transportasi, dan pendidikan tumbuh pesat. Belanja transportasi bahkan naik 71 persen (y-o-y),” jelas Andry.
Menurut dia, dominasi generasi muda dalam struktur penduduk menjadi katalis positif bagi pertumbuhan sektor berbasis pengalaman (experience-based consumption) seperti kuliner, perjalanan, dan hiburan.
Dari sisi makro, inflasi Juli 2025 tercatat 2,37 persen (y-o-y), masih dalam kisaran terkendali.
Kondisi pasar keuangan yang membaik dengan aliran modal asing turut memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 5 persen pada Agustus 2025.
Meski demikian, belanja pemerintah masih terkontraksi tipis -0,33 persen (y-o-y), sementara itu ekspor tetap positif berkat strategi eksportir yang mempercepat pengiriman barang sebelum penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat.
Andry menegaskan, dengan tren tersebut, BMRI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di level 4,96-5 persen.














