Di sisi lain, kalau ‘relaksasi kredit’ terjadi, sektor keuangan akan kekurangan likuiditas karena penerimaan bunga dan cicilan tertunda lagi.
Dalam hal ini, pemerintah harus menyediakan dana talangan sektor keuangan. Utang pemerintah akan membesar. Buah simalakama.
Selain itu, suku bunga pinjaman yang masih tinggi akan menghambat konsumen untuk belanja barang investasi seperti sepeda motor, mobil, properi, TV, lemari es, mesin cuci, etc.
Keenam, investasi korporasi tergantung dari tingkat konsumsi masyarakat. Kalau konsumsi stagnan, perusahaan belum bisa meningkatkan produksi. Belum bisa ekspansi.
Belum bisa hiring. Jadi, jangan berharap kredit korporasi akan bertumbuh. Mereka saat ini dalam kondisi kelebihan kapasitas produksi, sehingga tidak perlu ekspansi.
Kebijakan moneter saat ini dengan suku bunga pinjaman relatif tinggi menjadi kontra produktif dan menghambat pemulihan ekonomi. Menghambat efektivitas kebijakan fiskal.
Terakhir, neraca perdagangan dan transaksi berjalan 2021 akan memburuk. Impor 2021 berpotensi naik karena impor tahun 2020 turun tajam.
Oleh karena itu, ekspor dikurangi Impor tahun 2021 akan mengurangi pertumbuhan ekonomi paling sedikit 0,5 persen.
Tekanan utang domestik dan utang luar negeri membayangi ketahanan fiskal. Kebutuhan utang luar negeri semakin besar.
Tetapi, ketersediaan pasokan dari kreditor global semakin terbatas. Pemerintah akan mengupayakan utang multilateral dan utang bilateral lebih agresif.
Kalau doping gagal, kurs rupiah bisa tergelincir. Tergantung kekurangannya, nilai tukar bisa kembali ke Rp16.000 per dolar AS. Bahkan lebih buruk.
Jadi, dari mana pertumbuhan 5 persen?
Penulis adalah Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) di Jakarta













