“Saya memperkirakan, 2020 tetap masih ada tekanan eksternal. Untuk itu, fundamental ekonomi di dalam negeri harus diperkuat. Ini penting agar kurs, inflasi, tingkat bunga dan sebagainya tidak terlalu bergejolak,” ucapnya.
Lebih lanjut, Said mengapresiasi target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2020 diusulkan sebesar 5,3% atau meningkat dari outlook pertumbuhan ekonomi tahun 2019 sebesar 5,2%.
Target pertumbuhan ekonomi ini moderat sesuai dengan kondisi kekinian ekonomi domestic dan global.
“Namun dengan melihat trend perkembangan ekonomi global yang melambat dan pertumbuhan ekonomi nasional hingga akhir tahun 2019 yang belum terlalu menggembirakan,” jelasnya.
Hal ini tercermin dari sikap pemerintah yang tidak confident dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020. Padahal seharusnya Pemerintah bisa lebih optimis, karena berada pada awal periode Pemerintahan.
“Tim ekonomi bisa mengambil banyak pengalaman selama periode pemerintahan sebelumnya,” ucapnya.
Dia menambahkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5% tidak cukup kuat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, perlu transformasi secara structural supaya mampu melakukan investasi.
“Kalau itu tidak dilakukan maka untuk tumbuh 51,% saja sangat sulit. Makanya, soal upah buruh, stabilitas ekonomi harus dijaga. Ini sector rill yang perlu digerakan oleh pemerintah. Kalau kelompok ekonomi menengah ini tidak dijaga maka jangan berharap tahun depan ekonomi tumbuh 5,1%. Ekstra effort dari pemerintah,” tuturnya.













