Demikian juga dengan ekonomi global yang terus diselimuti awan gelap. Ekonomi China yang merupakan sekutu pemerintahan mulai goyang bahkan terancam runtuh.
Krisis melanda dunia dan sekaratnya ekonomi China membuat harga komoditas terjungkal. Bahkan harga minyak dan gas merosot sangat tajam, harga minyak berkisar antara20-30 usd/barel berada dibawah rata rata ongkos produksi di Indonesia. “Harga gas tinggal 1,8 usd/mmbtu,” ujarnya.
Padahal minyak merupakan andalan APBN Indonesia. Akibatnya pendapatan migas baik pajak maupun bagi hasil minyak menurun tajam. Jika tahun 2013 migas menyumbang Rp 305,82 triliun (21,25 % pendapatan negara), tahun 2014 sebesar Rp 310 triliun.
Namun di era pemerintahan Jokowi, pendapatan migas hanya Rp 80 triliun (tahun 2015). Tahun 2016 usaha dibilang migas sudah lebih besar pasar dari pada tiang, sudah lebih besar biaya (cost recovery) dibandingkan dengan seluruh revenue sektor minyak. “Dengan demikian sudah tidak mungkin Jokowi memperoleh penerimaan dari migas lagi,” imbuhnya.
Secara obyektif jelas Daeng, pemerintahan ini menciptakan keadaan yang semakin buruk bahkan dalam hal keuangan pemerintah sendiri jauh lebih buruk dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini diperkirakan akan terus semakin buruk.













