Country Director ADB Indonesia Steven R. Tabor mengatakan kondisi tersebut seiring laju ekonomi negeri Panda ini yang hanya tumbuh 6,5 persen pada tahun ini, lebih rendah dari 2015 yang mencpai 6,9 persen. “Jika ternyata pertumbuhannya lebih lambat dari proyeksi tersebut, dampaknya akan lebih signifikan. Sebab, setengah dari motor penggerak ekonomi Asia yaitu Cina,” urainya.
Saat ini, kondisi Negeri Tirai Bambau itu mengalami kelebihan kapasitas di industri dan perumahan. Bahkan mayoritas perusahaannya memiliki utang luar negeri dalam jumlah besar. “Konsumsi rumah tangga pun menurun. Begitu pula dengan investasi infrastrukturnya,” imbuhnya.
Meski ekonomi dunia terus stagnan, Menkeu Bambang Brodjonegoro optimis perekonomian Indonesia rebound. Alasannya, kebijakan Presiden Joko Widodo yang mendorong infrastruktur serta suku bunga yang berangsur turun. Hal ini menurutnya sudah cukup untuk menahan tekanan suku bunga The Fed yang terus naik dan melambatnya perekonomian China. “Adanya kepercayaan diri dibuktikan dengan kemampuan Indonesia melewati masa kritis kurs rupiah,” ujarnya.













