Jakarta, BERITAMONETER.COM – Perekonomian Indonesia tetap mencatat pertumbuhan solid sebesar 5,12 persen secara tahunan pada triwulan II-2025, meski dihantam ketidakpastian global akibat fragmentasi geoekonomi, dinamika geopolitik, fluktuasi pasar keuangan, hingga kebijakan tarif dagang Amerika Serikat. Pertumbuhan ini didukung inflasi yang terjaga pada level rendah 2,31 persen (yoy) per Agustus 2025, masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen.
Turunnya inflasi dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain meredanya harga pangan tertentu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, serta turunnya tarif angkutan udara seiring kebijakan diskon tiket pesawat. Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus kestabilan harga melalui bauran kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil yang diperkuat strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
Meski demikian, inflasi di dalam negeri masih sangat dipengaruhi oleh komoditas pangan bergejolak (volatile food). Faktor seperti alih fungsi lahan, cuaca ekstrem, disparitas harga antarwilayah, keterbatasan akses pembiayaan bagi petani dan nelayan, serta belum terintegrasinya data pangan menjadi tantangan utama dalam pengendalian inflasi.














