Kinerja impor dengan RRT juga menurun. Nilai impor produk nonmigas Indonesia periode Januari-Februari 2016 sebesar USD4,9 miliar, menurun 6,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai USD5,2 miliar.
Tjahya menjelaskan Ditjen PEN Kemendag terus mendorong ekspor produk Indonesia melalui berbagai kesempatan diantaranya dengan memberikan fasilitas booth bagi pelaku usaha Indonesia pada pameran CIIE 2016. Pada pameran CIIE yang sudah memasuki penyelenggaraan ke-8 kalinya ini, berbagai produk ditampilkan, antara lain branded consumer goods, metal working and automation, serta environmental protection and new material.
Tjahya mengaku optimis pameran ini mampu memberikan nilai tambah guna meningkatkan nilai ekspor. Sebab, pameran tahunan ini dikunjungi para importir, wholesaler dan distributor dari berbagai negara. “Oleh karena itu, pameran ini sangat penting untuk diikuti Indonesia agar produk Indonesia semakin dikenal dan diserap oleh pasar Asia dan dunia pada umumnya,” ujar Tjahya.
Pada CIIE 2016 Paviliun Indonesia akan menempati lahan seluas 72 m2, dengan tema Trade with Remarkable Indonesia. Paviliun yang dikonstruksi dengan desain spesial itu akan ditempati sembilan perusahaan, yaitu PT. Anggana Catur Prima (tomato sauce, chili sauce, baking ingredients, food ingredients, aroma cooking pasta, food coloring), PT.Domba Bali Persada (premium luwak coffee, luwak blend, bali golden peaberry coffee, volcano arabica coffee, chocoa powder), PT. Deltomed Laboratories (herbal), CV.GMC (shell, semi precious stone, wooden, fashion accessories, necklaces, bacelets, rings, earrings), PT. Megasurya Mas
(soap, palm wax, cooking oil, margarine, etc.), Monde Mahkota Biscuit (wafer, biscuit, sandwich biscuit), CV. Purnama Raya (snack), Surabaya Indah Permai (aromatherapy) dan Summit Gallery (handicraft).














