Persoalannya saat ini menurut Bambang, rakyat saja tak mau memilih calon pemimpin yang baik kalau tak ada uang atau money politics. Hanya saja dia kagum ternyata akhir-akhir muncul masyarakat yang anti money politics dalam Pilkades di Kebumen, Jawa Tengah.
Sebab, saat kampanye mendatangkan ustadz, calon kepala desa tersebut dilarang memberi transport sang ustadz. “Ini fenomena bagus. Tapi, kalau tidak percaya silakan cek langsung ke Kebumen,” imbuhnya.
Sementara itu, JJ Rijal sendiri mengatakan pahlawan itu perwujudan dari nilai-nilai sebagai orang Indonesia. Dan, itulah yang coba diinstitusionalisasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta. “Sayangnya ada dua tokoh; Semaun dan Tan Malaka, yang sampai hari ini belum diangkat sebagai pahlawan. Di era Orde Baru, pahlawan malah identik dengan militer,” jelasnya.
Padahal, kalau hari pahlawan itu merujuk kepada peristiwa perang besar 10 November 1945 di Surabaya, ada tiga tokoh berbarengan dengan itu. Yaitu, Abdul Muis, Ki Hajar Dewantoro (Pendiri Taman Siswa) dan Sugiyo Pranoto (guru sekolah rakyat), yang sama sekali tidak terkait dengan militer. “Jadi, kita sekarang punya 173 pahlawan nasional. Tapi, begitu sulitnya menemukan nilai-nilai dan perilaku kepahlawan dari pejabat kita dari pusat sampai daerah. Kita rindu tindak-tanduk kepahlawanan itu, baik dari mati dan khususnya dari yang masih hidup. Sehingga yang ada adalah irasionalitas kepahlawanan,” ungkap Rijal.














