“Apabila memang gridnya tidak ada disekitar situ, akan tetapi ada komunitas yang terpusat, ada peluang bisa dikembangkan PLTS Terpusat, PLTMH hingga tabung listrik,” jelas Harris.
Terakhir, pendekatan pra-elektrifikasi dipergunakan jika terdapat daerah yang penduduknya tersebar dan butuh biaya besar dalam pemasangan sistem jaringan.
“Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) dan tabung listrik bisa menjadi opsi untuk kita gunakan,” kata Harris.
Harris mencatat, program LTSHE sangat membantu dalam memberikan penerangan rumah tangga di wilayah terpencil. Bahkan dalam kurun tiga tahun, Pemerintah sudah mendistribusikan LTSHE ke 3.058 desa di wilayah terpencil.
Namun program ini akan digantikan dengan tabung listrik pada tahun 2020.
“Untuk 2020 distop dulu karena kita sedang berencana membuat program tabung listrik. Mungkin prinsipnya tidak persis sama dengan LTSHE, tapi mirip dari sisi penyediaan listriknya, perlu pembangkit EBT di wilayah setempat. Saya harap lebih bagus,” jelasnya.
Tiga pendekatan di atas didukung dengan kebijakan atas peningkatan kapasitas infrastruktur EBT baik secara komersial maupun non-komersial.
“Untuk komersial kita sudah memberikan ruang sektor swasta berperan aktif masuk ke dalam penyediaan listrik. Tentunya berkontrak dengan PLN,” tutur Harris.














