Memang diakui politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu kalau kaki dari orang Indonesia itu ada dua, satunya dibeton oleh kultur agama dan lain-lain, sedang satu lagi kakinya bebas. Tetapi kadang-kadang orang Indonesia ini salah tempat, kakinya itu kalau dalam negara harus betul-betul rasional dan terbuka. “Bahkan karena di saat kita harus berdebat dalam negara, sampai menemukan problem-problem di dalam kultur yang bisa menyebabkan masalah negara kita tidak terangkat, karena satu kaki kultur kita betul-betul terbeton,” paparnya.
Oleh karena itu, tambah Fahri lagi, awal dari refomasi dalam negara adalah bagaimana cara DPR mengelola kepentingan publik, mengingat DPR ini merupakan lembaga yang rasional. Apalagi, ada keinginan dari para wakil rakyat untuk membuat lembaga DPR ini lebih kuat dan solid, dan mencoba lepas dari sisa-sisa dari kulltur lama atau orde baru. “Itu lah kenapa yang paling lama di kita adalah sistem terpimpin atau presidensial, makanya sistem ini diunggulkan di kita. Bahkan, dalam sistem sekarang pun belum ideal, karena bercampurnya sistem presidensial dengan parlementarisme. Dan ini yang perlu diperbaiki untuk menuju parlemen modern,” pungkasnya. ***













