“Indonesia sangat memerlukan orang-orang yang memang memberikan keyakinan kepada bangsanya. Seperti pidatonya John F. Kennedy: we choose to go to the Moon. Nah, Indonesia naik kemana?” kata dia berkelakar.
Ketimbang memikirkan hal-hal yang tidak krusial, dia juga menyarankan para elit keluar dari sikap pesimistis. “Saya heran dengan politisi yang masih ada saja melakukan praktik saling ancam dan menghancurkan dalam perpolitikan,” ujarnya.
Masalah krisis kepemimpinan, menurut Fahri jelas sangat berpengaruh terhadap kondisi negara selanjutnya jika tak dibenahi.
“Sehingga kita ini seperti jelek semua. Dan bangsa ini tidak percaya lagi dengan pemimpinnya yang dianggapnya maling,” katanya.
Sementara Ketua GARBI Kalsel Wahyudi menegaskan GARBI merupakan organisasi masyarakat (ormas) yang bukan merupakan organisasi sayap politik dari kubu manapun.
Menurutnya, GARBI merupakan wadah sebagai mengumpulkan dan matangkan ide untuk menuju Indonesia sebagai negara yang kuat dan menjadi salah satu poros kekuatan di dunia.
“Sesuai konsep, GARBI yang jadikan kalangan milenial, wanita dan pengusaha sebagai pilarnya, mayoritas para peserta yang merupakan Sahabat Garbi didominasi kaum milenial berusia 17 hingga 40 tahun,” terang Wahyudi. *













