“Nah, yang senyawa dengan itu semua menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan di dalam, dan kemudian munculah anak-anak muda itu lari kepinggir-pinggir dan membangun gerakan baru. Anak-anak muda ini ingin kulturnya berubah menjadi demokratis, terbuka, egaliter. Ini mungkin dasarnya,” kata penggagas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.
Menjawab pertanyaan kalau kader partai yang lari itu sebagai barisan patah hati, dengan keadaan dalam tubuh PKS, Fahri membantahnya. Sebenarnya bukan patah hati, tetapi hanya ingin meneruskan khafila dialog saja. “Kan, mandat dari transisi demokrasi dan mandat dari reformasi kita itu harus membangun kultur yang lebih baik. Sayangnya, kalau kultur yang dibangun oleh pimpinan PKS sekarang ini, susah. Jadi bagaimana saya akan memprediksi kalau PKS itu akan lolos trashold,” katanya.
Apalagi, masih menurut Fahri, menjelang pemilu saja, pimpina PKS ini melakukan dua hal. Pertama, menyuruh semua calegnya untuk menandatangani surat pengunduran diri, yang tanggalnya dikosongkan.
“Kalau Anda jadi caleg begitu, mau nggak berjuang? Anda jadi caleg, tetapi disuruh menandatangani blanko kosong pengunduran diri, yang nanti oleh pimpinannya tinggal ditulis tanggal dan diserahkan ke KPU. Langsung Anda gugur,” ujarnya.














