“Kita contohkan saja dalam Pancasila, sila pertama. Jika dilihat dari sudut pandang Islam, itu adalah tauhid. Tuhan adalah segala sesuatu yang mendominasi diri kita. Jika tiba-tiba terjadi penjajahan dengan segala bentuknya, maka itu berarti ia mengambil alih posisi Tuhan untuk mendominasi kita. Maka dengan memahami sila Pertama, atau memahami tauhid, akan muncul semangat perlawanan. Tauhid itu adalah dasar agama Islam yang membakar gelora semangat kita. Hal ini sudah dicontohkan oleh para Pahlawan bangsa kita, yang juga merupakan para ulama. Mereka meyakini bahwa melawan penjajah adalah wajib, dan jika mati maka mereka akan mendapat mati syahid,” papar Fahri.
Dia juga mengajak pemuda untuk mengekspresikan pemikiran dan pandangan kritisnya dengan berbagai metode. “Setelah itu, maka mulailah bicara. Katakan sesuatu dengan pidato, dengan music, dengan buku, dengan puisi, dan kalau perlu dengan bunga,” urai Fahri seraya berharap jangan sampai ada kehilangan semangat untuk melawan dan pemuda jangan mudah menjadi orang yang dungu seperti ‘kerbau yang dicocok hidung’-nya.
Deklarator KAMMI ini juga mengingatkan, dalam hidup yang singkat, bagaikan seorang musafir, maka perjalanan hidup harus direncanakan. JIka tidak, maka hidup kita berjalan dan tiba-tiba berakhir, tanpa tahu kita sudah melakukan apa saja. “Tuliskan cita-cita anda, lalu impikan setiap hari,” ungkap dia memotivasi para peserta. ***













