Selain itu jelas dia, pelaku pasar masih mencermati situasi terakhir dari negosiasi pemotongan anggaranAS sebesar 1,2 triliun dollar AS. Akibatnya, AS terancam kembali masuk ke jurang resesi.
Hingga saat ini kata dia, rupiah belum mendapat keuntungan dari larangan BI terhadap bank-bank komersial untuk melakukan transaksi NDF di luar negeri. Demikian pula, terus menguatnya indeks harga saham gabungan Jakarta (IHSG), tidak terlalu menguntungkan rupiah. “Kelihatannya, masih tingginya permintaan dollar AS dari para importir dan permintaan dollar AS akhir bulan, secara tidak langsung menekan nilai tukar rupiah,” jelas dia.
Namun tingginya permintaan dollar AS tidak diimbangi oleh ketersediaan dollar yang memadai karena pelaku pasar masih enggan melepas dolarnya. “Dan ini menekan rupiah. Akan tetapi, intervensi BI meredakan tekanan terhadap rupiah,” pungkas dia.













