JAKARTA – Kenaikan The Fed Fund Rate (FFR) sebesar 0,25 persen beberapa hari lalu tidak berdampak terhadap arus modal keluar (capital outflow) seperti yang ditakutkan banyak orang.
Karena bank sentral Amerika Serikat (AS) itu pun hanya akan menaikkan FFR secara gradual, tidak secara drastis.
Dampak akan terasa signifikan dan serius terhadap volatilitas rupiah jika kenaikannya dipatok minimal sebesar 1,25.
“Dalam jangka pendek, kondisi ekonomi global di 2016 akan dipengaruhi dua hal, kenaikan FFR dan pertumbuhan ekonomi RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Dari situ akan terbaca sebesar apa pengaruh terhadap rupiah,” tandas anakis Mandiri Sekuritas, Leo Putra Rinaldy dalam diskusi bertajuk “Macroeconomic Outlook” di Jakarta, Senin (21/12).
Menurut dia, kenaikan FFR di 2016 nanti tidak akan terjadi seperti di 1999 atau 2004 silam, ketika The Fed sampai menaikkan hingga 400 basis poin.
Sementara suku bunga di bank sentral negara lain masih ada yang akan mengalami penurunan.
Seperti di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
“Sehingga dengan BI Rate saat ini dan kemungkinan di 2016 akan turun menjadi 7 persen, suku bunga kita masih atraktif. Dengan begitu masih menjadi daya tarik investor,” tutur dia.













