Kondisi suku bunga dalam negeri saat ini memang masih menjadi nomor ketiga terbesar di dunia setelah di Turki dan Brazil.
Hanya bedanya di sana memiliki potensi premium risk yang tinggi. Sehingga suku bunga domestik masih tetap dipandang menarik.
“Kondisi di tahun 2016 akan berbeda dari 2015. Tahun depan akan lebih baik tapi dengan beberapa catatan kondisi ekonomi global. Tahun 2015 bisa disebut “tahun gila”, karena volatilitas rupiah sangat tidak jelas,” papar dia.
Kendati dampak kenaikan FFR perlu diantisipasi, justru kata Leo, penurunan ekonomi RRT yang mestinya harus sangat diwaspadai. Pasalnya, jika perekonomi Negeri Tirai Bambu itu jatuh ke angka 6 persen akan sangat mengguncang perekonomian nasional.
“Saat ini kondisi Tiongkok sudah bergeser dari investment driven ke consumption driven. Makanya bank sentral Tiongkok terus menurunkan suku bunga dan GWM (giro wajib minimum) untuk mem-boosting perekonomiannya,” tandas dia.
Ia mengkalkulasi dampak serius jika ekonomi Tiongkok drop ke angka 6 persen.
Tidak seperti kenaikan FFR, dampak dari Tiongkok akan lebih serius kaena bakal mengguncang financial market, laju rupiah, bahkan ke sektor riil.
“Jadi impact-nya akan lebih besar dari FFR yang jika dinaikkan 1,25 persen,” kata dia.













