JAKARTA-Tidak bisa dipungkiri salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah sektor telekomunikasi, dimana sektor telekomunikasi bisa menjadi andalan untuk menopang pertumbuhan di tengah lesunya ekonomi Indonesia. “Hal ini terbukti di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan kuartal II tahun 2016, sektor telekomunikasi masih menunjukkan pertumbuhan yang positif yaitu 1,2 persen,” kata Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono dalam siaran pers yang diterima wartawan, Senin (21/11/2016).
Menurut Arief, sebagai negara berkembang, wajar jika pertumbuhan sektor telekomunikasi yang tinggi sangat menarik bagi korporasi asing. Dimana mereka ingin menikmati pertumbuhan sektor telekomunikasi Indonesia dengan modal kecil. Soalnya mereka tidak perlu membangun infrastruktur jaringan telekomunikasi, tapi keuntungan yang mereka peroleh akan sangat besar. Keuntungan itu pun akan dibawa ke luar Indonesia sebagai bentuk capital flight.
Lebih lanjut Arief Puyuono menekankan bahwa Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu mengapresiasi perjuangan Kementerian BUMN yang sudah berusaha untuk menolak perubahan 2 (dua) PP tersebut karena banyak dampak negatif bagi ekonomi nasional dan BUMN. “Selain itu kami juga mendesak agar Presiden Joko Widodo membatalkan perubahan 2 (dua) PP tersebut. Alasannya, hal ini adalah cara-cara asing untuk merusak perekonomian Indonesia dan tidak menguntungkan bagi rakyat, serta membahayakan keberadaan Bhinneka Tunggal Ika dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.













