“Di Jakarta, meskipun dekat dengan pusat pemerintahan, nyatanya masih ada lapisan masyarakat seperti buruh kecil dan disabilitas yang menjadi blindspot dan tidak terwakilkan dalam kebijakan, di Demak masyarakat yang berhadapan langsung dengan krisis iklim justru diperparah kerentanannya oleh pembangunan yang tidak memihak. di sinilah peran dokumenter sebagai media yang jujur untuk membuka ruang agar suara-suara rakyat dapat didengar,” jelasnya.
Ari Wijanarko Adipratomo, Policy and Advocacy Manager The Climate Reality Project Indonesia, menegaskan bahwa anak muda punya ruang dan kesempatan besar untuk terlibat dalam advokasi kebijakan iklim.
“Kebijakan publik harus diwarnai oleh suara anak muda yang merasakan dampaknya secara langsung,” katanya.
Diskusi ini juga menghadirkan Cania Citta, Co-founder Malaka.
Dan acara ditutup dengan pertunjukan musik dari Jui Purwoto & Orkes Swaracau.
Tropis Talks adalah ruang diskusi publik yang digagas oleh MADANI Berkelanjutan untuk mempertemukan publik dengan isu-isu hutan, iklim, dan keadilan sosial dalam format yang menyenangkan.
Seri kedua ini mengangkat tema “Krisis Iklim Bukan Sekadar Cuaca, Tapi Juga Kebijakan, Konflik Lahan, dan Suara yang Tak Didengar.”















