Pada 2023, kata Mulky, total pasar konstruksi Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp332,95 triliun, yang sebesar 47,29 persen merupakan sektor sipil dan sebesar 52,71 persen sektor bangunan.
“Proyek perseroan akan berupa pembangunan Rumah Sakit Orthopedi di Jakarta Timur, dengan nilai proyek sebesar Rp35 miliar dan diperkirakan akan selesai dalam dua tahun hingga tiga tahun ke depan,” ujar Mulky.
Pada kesempatan yang sama, Direktur FIMP, Cholid Wuryanto memaparkan, sepanjang tahun lalu perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp546,4 juta, padahal setahun sebelumnya emiten yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 April 2021 ini masih mencatatkan rugi bersih Rp934,71 juta.
Cholid menjelaskan, keberhasilan Perseroan dalam membalikkan kinerja keuangan menjadi positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan Tahun Buku 2022 yang sebesar 7,55 persen (year-on-year) menjadi Rp6,55 miliar.
Bahkan di sepanjang tahun lalu, FIMP tercatat berhasil mengelola jumlah beban yang pada akhirnya mampu memperbaiki income statement Tahun Buku 2022.
Perlu diketahui, beban langsung yang dikeluarkan Perseroan di 2022 bisa ditekan hingga 15,21 persen (y-o-y) menjadi Rp5,13 miliar.
Dengan demikian, ujar Cholid, laba bruto FIMP untuk periode yang berakhir 31 Desember 2022 meroket hingga 3.207,11 persen menjadi Rp1,41 miliar dari Rp42,75 juta pada Tahun Buku 2021.













