Sebagai perusahaan di segmen jasa konstruksi kelas menengah, sejauh ini pesaing FIMP adalah PT PP Urban, PT Adhi Persada Gedung, PT Tatamulia Nusantara Indah, PT Catur Bangun Mandiri, TOPS, TOTL, PT Wijaya Kusuma Kontraktor, China State Construction Engineering dan NRCA.
Dia mengungkapkan, perseroan akan menjajaki sejumlah proyek yang sesuai dengan bidang keahlian PT Fimperkasa Utama Tbk, termasuk persiapan lahan, jasa pra-konstruksi dan proses konstruksi bangunan.
Selain itu, FIMP juga akan mencermati belanja pemerintah terkait proyek pengembangan infrastruktur nasional.
Laporan Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa anggaran infrastruktur pada APBN 2025 telah disiapkan pemerintah mencapai Rp400 triliun, sehingga kondisi fiskal ini diyakini semakin membuka peluang pertumbuhan kinerja FIMP yang telah berpengalaman di bidang konstruksi sejak 1993.
Dengan demikian, tegas Mulky, kinerja keuangan perseroan untuk Tahun Buku 2025 akan mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan realisasi kinerja keuangan di sepanjang 2024.
Pada Tahun Buku 2024, FIMP membukukan pendapatan usaha Rp5,87 miliar atau menurun 17,9 persen (year-on-year) dibandingkan setahun sebelumnya Rp7,15 miliar.
Seiring dengan penurunan kinerja di area top line tersebut, beban langsung yang dicatatkan FIMP di 2024 mengalami penurunan 16,9 persen (y-o-y) menjadi Rp4,38 miliar, sehingga laba bruto di sepanjang 2024 menjadi Rp1,49 miliar atau menurun 20,7 persen (y-o-y).















