JAKARTA – Kunjungan kerja DPR dinilai tidak ada gunanya.
Pasalnya, setelah kunker selesai dan kembali aktif ke Senayan diprediksi kisruh lagi satu dengan yang lain.
Karena itu, kunker DPR hanya menghabiskan uang negara yang mestinya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas.
“Mereka hanya tahu terima uang dari negara lalu dihabis-habiskan dengan mengatasnamakan kunker, tapi nggak pernah tahu makna dari kunker yang mereka jalani,” kata peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi di Jakarta, (13/12/2014).
Lebih lanjut Uchok menilai, anggota DPR yang tidak terima dikritik dan diberi masukan itu sesungguhnya tidak cerdas dan malas berpikir sebagai wakil rakyat.
“Mereka hanya tahu dikasih duit lalu dihabiskan saat kunker. Memang duit nenek moyangnya,” ujar Uchok.
Mestinya, tegas Uchok, mereka beripikir taktis dan cerdas hingga kunker tidak sekadar rutinitas menghabiskan uang negara tetapi harus ada nilai tambah.
Oleh karena itu, lanjut aktivis anti korupsi, setelah kunker sudah semetinya membuat laporan, kesimpulan dan merumuskan apa yang hendak dilakukan selanjutnya setelah melihat lapangan.
Dengan demikian saat kunker berikutnya mereka dipercaya konstituen.












