Menurut Lucius, jika kegiatan politik memakai uang maka kepercayaan sudah tak berlaku. Pemimpin atau wakil rakyat terpilih mestinya tak punya legitimasi kuat untuk mewakili suara rakyat di Dapilnya.
“Orang yang menggunakan uang untuk mendapatkan suara sudah pasti juga menganggap rendah rakyat. Dia hanya mengukur harkat seorang pemilih dengan sejumlah uang,” terangnya.
Umumnya kata Lucius, jika uang yang dipakai untuk membeli suara maka wakil rakyat terpilih juga tidak mempunyai tanggung jawab moral kepada rakyat.
Sebab, dia akan sibuk memanfaatkan kursinya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.
“Korupsi pun akan terpelihara terus jika sejak awal wakil rakyat sudah menggunakan uang untuk bisa menang. Mereka yang terpilih karena uang juga akan bekerja untuk mendapatkan uang itu,” terangnya.
Kendati demikian, cara mengatasi pola politik uang ini bukan perkara mudah. Apalagi, untuk meliterasi warga tentu saja butuh waktu.
“Paling mendesak sekarang, bagaimana memastikan para kandidat atau tim penenangan bisa dikontrol dan diawasi setiap aksi mereka menggunakan uang untuk membeli suara pemilih,” jelasnya.
Lucius mengatakan Bawaslu tentu memiliki tanggung jawab untuk memastikan kontrol pada setiap pelaku bisa diketahui.













