JAKARTA-Wajah lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali tercoreng oleh ulah tercela anggotanya. Hal ini menyebabkan reputasi lembaga terhormat ini kian terpuruk di mata publik negeri. Betapa tidak, paska skandal kampanye Donald Trump, anggota DPR kembali terlibat skandal pengaturan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Tak main-main, Ketua DPR Setya Novanto diduga sebagai actor pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden untuk memuluskan kontrak tersebut. “Kasus dugaan pelanggaran etis yang menimpa Setya Novanto saat ini menegaskan wajah buruk dan tak performnya DPR saat ini,” ujar Peneliti Senior Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus di Jakarta, Rabu (18/11).
Seperti diberitakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said akhirnya menyebut nama politikus DPR pencatut nama Presiden dan Wakil Presiden. Dia adalah politikus Partai Golkar, Setya Novanto. Sudirman sendiri sudah melaporkan Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).
Menurut Lucius, wajah buruk itu banyak disumbang oleh perilaku tercela yang secara berulang diperlihatkan oleh beberapa orang pimpinan. Cacat etis mereka membuat kinerja wakil rakyat tidak maksimal. “Dengan kinerja rendah plus cacat etis dan korup yang secara beruntun terjadi maka pantas untuk mengumunkan darurat DPR kepada publik. DPR sudah sampai pada titik terendah untuk bisa dipercaya public,” jelasnya.














