Kelompok G-20 sangat menyesalkan keterlambatan penghapusan segala bentuk subsidi ekspor sebagaimana diamanatkan dalam Deklarasi Para Menteri WTO pada tahun 2003 di Hong Kong. Kelompok G-20 kembali menekankan bahwa subsidi ekspor merupakan kebijakan yang sangat mendistorsi perdagangan inernasional.
Mendag menegaskan bahwa kelompok G-20 menunggu langkah-langkah nyata yang dilakukan negara maju untuk menghapuskan seluruh bentuk susbsidi ekspor, karena itu sektor pertanian harus menjadi fokus utama perundingan Doha pasca-Bali.
Lebih lanjut, Gita menekankan pentingnya agar Paket Bali dapat disepakati untuk menghidupkan dan mendorong kembali keberhasilan keseluruhan isu perundingan dalam Putaran Doha di WTO. “Kesuksesan untuk menyelesaikan Paket Bali dalam Konferensi Menteri kali ini akan memberikan sinyal yang kuat kepada dunia bahwa anggota WTO tetap memiliki kapasitas untuk mencapai hasil dalam perundingan perdagangan di fora multilateral,” imbuhnya.
Untuk mengantisipasi perundingan pasca Bali, kelompok G-20 sepakat untuk terlibat dalam perundingan secara konstruktif dan lebih pragmatis agar terdapat komitmen yang mengikat negara-negara maju untuk menghapuskan subsidi ekspor serta mendisiplinkan semua kebijakan subsidi pertanian yang mempunyai efek terhadap perdagangan pertanian.













