Sementara yang bersangkutan tidak menjelaskan bagaimana Jiwasraya dan Asabri digarong uangnya oleh para bandar atau Mafia Pasar Modal.
Fenomena Gamestop sama sekali tidak ada relevansinya untuk dibandingkan dengan korupsi Asabri dan Jiwasraya.
Tidak ada kejatuhan harga saham secara ekstrim di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagaimana yang terjadi di Wall Street.
Tidak ada juga publik yang mengalihkan saham-saham mereka dari Jiwasraya maupun Asabri sehingga kedua perusahaan ini merugi.
Kedua perusahaan ini merugi karena cara pengelolaan dana, dan investasi yang mereka lakukan diduga bermotif koncoisme dan nyolongisme.
Tidak ada mekanisme pasar yang terbuka dan transparan dalam tehnik penempatan publik oleh perusahaan asuransi tersebut, publik pemilik uang tidak pernah tau dimana uang mereka di investasikan.
Apalagi di bursa saham Indonesia saat ini tidak ada saham perusahaan baru yang melejit seperti Gamestop. Inilah salah satu keanehan kalau mau mencermati komentar elit tersebut diatas.
Tabik.
Penulis adalah Pengamat Ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Jakarta













