Salah satu contoh nyata keberhasilan pendekatan ini ditunjukkan oleh brand Manamu Handwoven, yang turut menjadi narasumber dalam webinar.
Manamu berhasil mengangkat dua budaya tradisional lokal, yaitu Lulu Amah dan Mamuli ke dalam produk kriya modern, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan lokal dan keberlanjutan melalui produk-produk kriya khas dari Waingapu NTT.
Lulu Amah merupakan seni tenun menggunakan kawat baja, tembaga, dan kuningan yang menghasilkan produk-produk home décor seperti lampu, artwork, dan aneka macam perhiasan. Sedangkan Mamuli adalah kawat kuningan yang ditempa dengan teknik turun temurun.
Menurut Reni, keberhasilan brand Manamu dalam menembus pasar mancanegara didorong oleh brand story yang kuat, kualitas produk tinggi, dan komitmen nyata terhadap komunitas.
Selain itu, adaptasi pasar dan kolaborasi dengan influencer serta media meningkatkan visibilitas dan daya tarik brand di pasar lokal dan internasional.
“Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa nilai lokal dan inovasi dapat saling melengkapi untuk menembus pasar global,” ujarnya.
Webinar ini juga menjadi forum berbagi praktik baik antar pelaku industri kriya, mempertemukan pemangku kepentingan dari Dekranasda provinsi seluruh Indonesia, pelaku IKM, desainer, hingga penggiat budaya.















