“Pada tahun 2030, Indonesia ditargetkan menjadi lima besar eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global,” ungkapnya.
Implementasi industri 4.0 diyakini mampu meningkatkan ekspor makanan dan minuman nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sekitar USD12,65 miliar yang akan menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025.
Sementara itu, industri TPT mampu kompetitif karena struktur industrinya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.
Sektor padat karya ini mampu memberikan share ekspor dunia sebesar 1,6 persen.
Pada tahun 2018, Kemenperin mematok ekspor industri TPT sebesar USD13,5 miliar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,95 juta orang. Tahun 2019, ekspornya diharapkan bisa mencapai USD15 miliar dan menyerap sebanyak 3,11 juta tenaga kerja.
Periode Januari-Oktober 2018 ekspor TPT nasional telah menembus di angka USD11,12 miliar atau naik 7,1 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
Di samping itu, industri karet sintetis berpeluang dongkrak nilai ekspor nasional. Hal ini seiring dengan investasi PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI), beberapa waktu lalu.Diproyeksi nilai ekspor karet sintetis dari perusahaan ini mencapai USD250 juta dengan kapasitas produksi terpasang 120 ribu ton per tahun.












