JAKARTA,BERITAMONETER.COM – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Jakarta resmi melayangkan Nota Keberatan Strategis dan Diplomatik kepada Presiden RI, Menteri Luar Negeri, dan DPR RI.
GMNI Jakarta menilai Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia-AS bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan instrumen Imperialisme Modern (Nekolim) yang secara sistematis memiskinkan rakyat kecil dan merongrong kedaulatan agraria.
​Ketua DPD GMNI Jakarta, Deodatus Sunda Se, menegaskan bahwa kebijakan ini adalah serangan langsung terhadap jantung ideologi Marhaenisme.
​”Marhaenisme menuntut kita untuk Berdikari. Namun, ART ini justru meletakkan leher ekonomi rakyat di bawah sepatu boots kapitalisme global. Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita Bung Karno untuk membebaskan si Marhaen dari penghisapan bangsa atas bangsa,” tegas Deodatus di depan Gedung Kemlu RI.
​Analisis Marhaenisme & Penikaman Landreform
​Sekretaris DPD GMNI Jakarta, S. Abraham Christian, memberikan pernyataan tajam mengenai dampak destruktif perjanjian ini terhadap struktur agraria dan basis ekonomi rakyat jelata.
Abraham menilai ART ini akan memicu gelombang perampasan ruang hidup yang sistematis.














