JAKARTA,BERITAMONETER.COM – Gerakan Nurani Bangsa menilai reformasi kepolisian tidak bisa hanya dilakukan di level teknis.
Pasalnya, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)sudah menjadi habitus dalam tubuh Polri yang hanya bisa berubah melalui “paksaan sejarah” dan perubahan paradigma besar.
“Yang esensial dari reformasi kepolisian harus dilihat dari aspek kultural dan struktural. Habitus KKN sudah mengakar. Perubahan tidak bisa sekadar administratif, melainkan harus melalui tekanan sejarah dan revolusi pemikiran,” ujar Romo Setyo diskusi pra-Konferensi Cabang (Konfercab) Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta Selatan yang digelar di sekretariatnya pada Rabu (2/10) menyoroti kegagalan reformasi kepolisian di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Dalam diskusi bertajuk “Reformasi Kepolisian: Menegakkan Kembali Supremasi Sipil atau Mempertahankan Kekuasaan”, para pemateri sepakat bahwa institusi Polri saat ini semakin jauh dari cita-cita reformasi, bahkan cenderung menjadi alat status quo yang berpihak pada modal dan kekuasaan.
Selain Romo Setyo, diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Antonius Danar dari Strategi Institute, pengamat politik Ray Rangkuti, dan Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran Prof. Muradi.















