“Jokowi bisa mentransendensi dirinya sebagai politisi dengan kemampuan mengonsolidasi kekuatan politik, dan merangkul parpol-parpol yang berseberangan. Bahkan yang oposisi menjadi kawan dengan baik. Gerindra pun mulai sejalan dengan pemerintah,” tutur Sirojudin.
Kedua, dalam konteks global, ada kecenederungan sejumlah kelompok radikal berupaya menarik Indonesia ke dalam pusaran konflik di Timur Tengah.
“Psikologi konflik itu kencang. Dan, Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia, kalau masuk ke dalam pusaran konflik itu (ISIS), maka dunia akan kehilangan penyeimbang negara muslim yang demokratis, moderat, tolerans, menghargai keragaman, pluralism, dan damai, yang satu-satunya adalah Indonesia,” tegas Sirojudin.
Nah, Jokowi menurut Sirojudin, menangkap gejala tersebut, dan mereka ini akan memanfaatkan kasus Ahok sebagai panggung politik.
Oleh sebab itu wajar kalau Jokowi melakukan pertemuan dengan Parbowo, yang memiliki dukungan besar itu tidak sampai terseret ke dalam konflik tersebut.
Tapi, kalau Pak Fadli Zon, ikut demo, berarti Gerindra ada pada pusaran itu.
Padahal, kalau tidak ikut turun ke jalan, maka kelompok-kelompok radikal itu akan makin teralinasi.
“Makanya, pemerintah harus mempersempit ruang gerak mereka untuk masuk perangkap ISIS itu,” pungkasnya.












