Lebih lanjut dia menjelaskan, isu yang dilontarkan Dubes AS juga jelas sekali motifnya. AS ingin menghancurkan Indonesia dari dalam dengan mengaitkan antara kehadiran LGBT dan demokrasi. Dukungan terhadap LGBT tidak ada kaitannya dengan kehidupan demokrasi. Ada tatanan budaya, ada tatanan moral di Indonesia yang harus dihormati dan itu berbeda dengan apa yang berlaku di AS. “Ini Indonesia dan bukan AS. Setiap hak dasar yg telah dianugerahi Tuhan seperti hak hidup, hak berkarya, hak berekonomi mencari penghidupan yang layak bagi diri dan keluarganya, itu musti dijunjung sepenuhnya oleh setiap orang! Karena Tuhan menciptakan manusia dengan suatu tujuan, yang senantiasa berpasang-pasangan. Hukum alam itu menjelaskan perkembangan biak dari suatu mahluk terjadi karena mereka diciptakan berpasang-pasangan dengan jenis kelamin yang berbeda. Jika tidak mungkin berkembang biak karena pernikahan sejenis atau penyimpangan dari hukum alam, lalu bagaimana masa depan Indonesia harus ditata?” tanya Dian.
Ketua Granita itu mengurai lebih lanjut, pengakuan secara resmi atas kehadiran LGBT membuka kotak pandora atas masa depan bangsa dan negara Indonesia. Pengakuan atas kehadiran LGBT akan menghancurkan generasi ke generasi mendatang. Jika suatu penyimpangan dengan alasan hak asasi manusia kemudian diakui sebagai bukan penyimpangan (normal), Dian menjelaskan, Indonesia dapat memprediksi, kapan negara ini akan hancur tanpa harus bangsa asing menjajah Indonesia. “Pengakuan resmi atas LGBT akan berlari pada tuntutan apakah Presiden Indonesia boleh seorang LGBT atau tidak ? Dengan demikian lebih jauh lagi, apakah persyaratan calon presiden, calon gubernur, ataupun calon bupati yang harus sehat jasmani dan rohani, tidak dibutuhkan lagi ?” tanyanya.















