Sementara itu, energi terbarukan dialokasikan oleh BNI melalui Solar Power Plants yang berkontribusi pada penurunan 3.037 ton CO2 per tahun.
Proyek Mini-Hydro Power Plants menurunkan 26.686 ton CO2 per tahun, dan Biogas Power Plants menurunkan 24.863 ton CO2 per tahun.
BNI juga mengalokasikan Green Bond untuk bangunan hijau yang telah berkontribusi menurunkan 69.339 ton CO2 per tahun.
Tak berhenti di situ, alokasi juga digunakan untuk mengubah sampah menjadi energi dan pengelolaan sampah, di mana sebanyak 150.410 ton sampah per tahun telah didaur ulang.
Di luar itu, BNI mengalokasikan pembiayaan dari green bond untuk sumber daya alam dan penggunaan lahan berkelanjutan, bagi pengelolaan lahan seluas 314.387 hektare yang telah memiliki sertifikat FSC dan penanaman 31.269 pohon di Papua.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan, perseroan tidak sekadar menyalurkan pembiayaan, tetapi juga lebih proaktif melakukan pemantauan hasil penurunan GRK dari pembiayaan yang bersumber dari green bond.
“Tentunya ini merupakan pencapaian yang cukup baik. Kami bertujuan mendorong lebih banyak proaktif dalam membantu pemerintah untuk mencapai net zero emission,” katanya.
Adapun Okki menjelaskan BNI telah melakukan penyesuaian metodologi perhitungan dalam hal klasifikasi sumber emisi untuk menghitung emisi khususnya scope 3 yang meliputi, perjalanan dinas darat, perjalanan dinas udara, dan emisi pembiayaan dengan mengadopsi metodologi dari PCAF.














