“Madura adalah lumbung tembakau nasional. KEK Tembakau bisa menjadi laboratorium keadilan ekonomi. Negara hadir sebagai arsitek, bukan penonton,” jelasnya.
Menutup wawancara, Gus Lilur menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan cukai tidak boleh hanya diukur dari besarnya penerimaan negara.
“Ukuran sejatinya adalah apakah petani tembakau, buruh linting, dan pelaku usaha kecil hidup lebih sejahtera atau justru semakin terdesak,” katanya.
Menurutnya, selama ruang legal rokok rakyat terus disempitkan, rokok ilegal akan tetap hidup. Selama kebijakan dibuat seragam, ketimpangan akan terus melebar.
“Di sinilah keberanian negara diuji. Keberpihakan pada rokok rakyat adalah ukuran keberanian itu,” pungkas Gus Lilur.














