Petrus juga menampik anggapan Budiman Sudjatmiko bahwa Prabowo Subianto telah berubah. Budiman, disebut Petrus, memiliki cara pandang politik ngawur.
“Tidak benar juga Prabowo Subianto sudah berubah, seperti dikatakan Budiman bahwa sekarang ada kesamaan cara pandang Prabowo dan dirinya yang seorang mantan aktivis. Cara pandang Budiman, ngawur,” ujarnya.
Dia menambahkan, “Prabowo belum mengalami perubahan dari watak lamanya. Sekarang ini hanya berubah taktik. Seolah-olah dia memuja Presiden Jokowi. Taktik ini tidak lain hanya untuk memanipulasi persepsi publik, mengambil hati para pendukung Jokowi.”
Menurut Petrus, track record Prabowo Subianto selama ini justru membahayakan demokrasi. Lima tahun lalu, ia menggandeng erat kelompok politik Islam garis keras.
Mereka melakukan politik SARA, menebar kebencian kepada kelompok lain yang tidak disukai, bahkan mengkafir-kafirkan kaum muslim lainnya yang tidak sejalan.
Di masa itu, kampanye hitam dengan menyebarkan kebohongan juga begitu massif terjadi di tengah masyarakat.
“Itu adalah rekam jejak Prabowo, tidak saja pelaku penculikan aktivis tetapi menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaannya,” ujar Pertus, yang juga mantan Sekjen Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).













