JAKARTA-Bank Indonesia (BI) mempunyai ruang memberikan stimulus dari sisi moneter untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate. Pelonggaran kebijakan bias ditempuh bank sentral seiring landainya tingkat inflasi. “Karena, saat ini inflasi memang dalam tren menurun. Inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2015 yang baru mencapai 2,16 persen dan inflasi secara tahun ke tahun (year on year) 6,25 persen,” papar Mantan Deputi Gubernur (DG) Bank Indonesia (BI), Halim Alamsyah dalam seminar ‘Tantangan dan Peluang Investasi di Pasar Modal pada Era Turbulensi Ekonomi’ yang digelar Lembaga Kajian dan Aksi Kebangsaan (LKAK) di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (5/11).
Dia berharap, di kuartal keempat tahun ini, BI Rate bisa diturunkan. Namun dia enggan menyebut berapa angka idealnya penurunan suku bunga itu “Kita tunggu saja nanti,” katanya diplomatis.
Hingga saat ini, BI Rate tetap berada di level 7,5% semenjak Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Februari 2015.
Secara keseluruhan, lanjut Halim, kinerja perbankan nasional berdasarkan data dari BI memang masih dalam kondisi aman, kendati memang tidak sebaik masa-masa sebelumnya. Kondisi ini terjadi salah satunya uang yang beredar masih di bawah dari titik puncak era sebelumnya. Apalagi APBN juga masih dalam kontraksi.














