Selain itu, untuk angka realisasi pertumbuhan kredit perbankan hingga akhir Agustus 2015 sebesar 10,9 persen (yoy), itu menunjukkan bahwa penyaluran kredit tengah mengalami perlambatan. Untuk dana pihak ketiga (DPK), produk tabungan masih mengalamai penurunan, yang menaik itu rekening giro, karena terkait kegiatan ekonomi. “Kalau perbankan membaik maka kredit juga akan menaik. Saat ini penurunan itu terjadi karena likuiditas yang linggar dan permintaan kredit yang tidak setinggi era sebelumnya. Sehingga, perlu adanya pelonggaran kebijakan moneter,” tandasnya.
Lebih lanjut Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menjelaskan, sepanjang kondisi perekonomian global tidak memberikan dampak buruk yang signifikan bagi ekonomi nasional, maka ruang untuk menurunkan BI Rate akan semakin terbuka.
Pada dasarnya, kata Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta ini, perekonomian di dalam negeri dalam jangka menengah tidak menunjukkan tanda-tanda kondisi krisis. “Selama ini kurs rupiah menjadi penyeimbang ekses demand dan supply di pasar valuta asing,” pungkas dia.
Sementara itu, BI masih melakukan pengkajian terkait ruang penurunan suku bunga acuan atau BI rate kendati indeks harga konsumen telah mengalami dua kali deflasi. “Kita sambut baik bahwa ada deflasi 0,05% kemudain deflasi 0,08%. Ini tentu akan menjadi bahan untuk kita kaji pada saat selenggarakan Rapat Dewan Gubernur,” ujar Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo, (TMY)














