“Harus lihat long term. Boleh cost plus margin (pengaturan harga berdasarkan biaya produksi ditambah margin keuntungan), tapi long term aja. Jadi kita bikin win-win aja, jangan mikir sekejap. Jadi pas harga naik, PLN untung. Pas turun, perusahaan batu bara enggak rugi banget,” kata Ketua Umum APBI, Pandu Sjahrir, dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/2).
Bila PLN tak mau menyepakati harga khusus untuk jangka panjang, menurut Pandu, sebaiknya ikuti saja Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan pemerintah setiap bulan. Toh, HBA itu sudah lebih murah USD 6-7 per metrik ton dibanding harga pasar.
“Isu long term ini yang susah. Kalau enggak mau long term ya sudah, ambil harga market aja. Ikutin ajalah harga market yang ada. HBA pun yang ditetapkan di bawah harga market lho,” ucapnya.
Saat ini PLN dan pengusaha masih bernegosiasi secara business to business (B to B) soal harga batu bara untuk pembangkit listrik di dalam negeri. Jika tak tercapai titik temu, pemerintah yang akan mengambil keputusan untuk kedua belah pihak.
“Kementerian ingin pembicaraan ini B to B. Kalau enggak ada garis temu, maka (pemerintah) akan jadi wasit dan bikin policy. Nah, nanti pekan depan lapor ke Pak Menteri (Ignasius Jonan),” tutupnya. ***














