Disatu sisi pemerintah melalui kementrian ESDM ingin menggalakkan pengembangan EBT. Namun ironinya, disisi lain harga jual BBM fosil yang semakin rendah justru mengubur program pengembangan EBT.
Pengembangan EBT tentu tidak akan mungkin meningkat bila harga jual BBM Fosil makin rendah. Ini harus jadi perhatian besar bagi pemerintah dalam rangka menyusun kebijakan penetapan harga BBM. Karena BBM Fosil adalah satu keniscayaan yang akan segera habis dan dunia wajib berpindah ke energi baru terbarukan. Maka tidak ada pilihan meski sudah terlambat, pemerintah harus membuat kebijakan kompeherensif antara harga jual BBM dengan pengembangan EBT.
Kaitannya pada bulan April awal, pemerintah harus mengevaluasi harga jual BBM untuk periode bulan April hingga Juni 2016 mengacu pada rata rata Mean of Platts Singapore (MOPS) bulan Januari sampai dengan Maret 2016 yang mana harga minyak jatuh pada titik terendah dalam kurun waktu belasan tahun terakhir.
Artinya jika mengacu pada harga minyak tersebut maka harga jual BBM akan turun pada kisaran yang sangat murah bahkan lebih murah dari seliter air mineral. Harga jual BBM murah tersebut juga belum tentu mampu menggerakkan turunnya harga bahan bahan pokok karena pemerintah tidak punya instrumen yang memaksa harga batang turun ketika harga BBM turun. Sementara ketika nanti harga BBM kembali naik, maka harga barang naik secara otomatis.












