Melalui ITRC, jelasnya, juga dilakukan upaya membentuk bursa dengan konsep perdagangan yang volumentary. Menurut Moenardji, itu akan baik untuk menolong harga bisa termin melalui suatu referensi yang transparan dan clear.
Untuk itu, GAPKINDO meminta perdagangan bisa dilakukan secara volumetari bursa fisik karet dan bukan secara mandatory. “Kami sampaikan, kami meminta untuk pemerintah betul-betul memperhatikan bursa fisik karet harus berbasis fisik bukan mandatori. Bapak Presiden sudah menangkap maksud itu, dan kami harap ini akan terealisir secara baik,” ujarnya.
Ketua Umum GAPKINDO itu juga mengingatkan, karet merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia yang berbasiskan komoditas rakyat, dimana petani karet adalah mitra pengusaha sehingga terjadi simbiosis mutualisme. Presiden sendiri memberikan perhatian yang tinggi dengan sering masuk ke daerah-daerah pelosok saat melakukan kunjungan kerja ke daerah.
Untuk itu, sebagai solusi jangka panjang GAPKINDO mengimbau dilakukannya peremajaan terhadap perkebunan karet. “Pemerintah perlu hadir dan turun untuk meremajakan klon-klon karet petani karena apabila peremajaan dilakukan produktivitas petani akan meningkat dari yang sekarang,” tuturnya.













