JAKARTA,BERITAMONETER.COM – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) meminta pemerintah segera mereview kembali pos-pos APBN atas rencana penerimaan Q2 hingga Q4 serta pengeluaran atau belanja Q2 hingg Q4 termasuk Q1.
Hal ini terkait dengan imbas perang Iran dengan AS-Israel yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.
“Sebaiknya membuat berbagai opsi termasuk merevisi anggaran yang belum direalisasikan, agar defisit APBN tidak melampaui ambang batas defisit maksimal 3%. Hal ini mengingat ICP terus menerus berjalan jangka panjang (harga rata-rata jangka panjang Q2 s/d Q4),” kata Wakil Ketua Dewan Pakar DNIKS Sapuan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (11/3/2026).
Lebih jauh Sapuan memprediksi harga minyak dunia akan terus melonjak, bahkan sempat menyentuh USD 110 per barel.
Tingginya harga minyak ini tentu mempengaruhi kekuatan APBN, pasalnya asumsi ICP yang dalam APBN sebesar USD 70/barel.
Sehingga berdampak pada bertambahnya subsidi minyak (BBM).
“Jadi efek kenaikan harga minyak tersebut untuk itu perlu dimitigasi, bahkan kalau perlu mengevaluasi kembali pos-pos APBN sesuai dengan skala prioritas,” ujarnya lagi.
Disinggung soal ganggu pertumbuhan ekonomi 2026, Sapuan tidak menampik, bahwa secara jangka panjang tentu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, bahkan bisa melambat menjadi kisaran 5,2% hingga 4,9%.














