JAKARTA-Kementerian Keuangan memprediksi melemahnya harga minyak bisa menguntungkan Indonesia. Artinya, semakin murah harga minyak bisa menurunkan dana pada sejumlah pos APBN. “Karena pengaruh harga minyak ini, maka defisit anggaran berkurang,” kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemkeu) Askolani di Jakarta.
Menurut Askolani, jika harga minyak turun maka subsidi energi juga akan turun, baik subsidi bahan bakar minyak (BBM) maupun subsidi listrik. “APBN-P 2014 mengalokasikan dana belanja subsidi Rp 403,04 triliun, yang sebagian besar untuk subsidi BBM dan listrik,” paparnya.
Seperti diketahui, target penerimaan dari sektor minyak dan gas (migas) terbilang kecil. Sementara target pajak penghasilan (PPh) sektor migas tahun ini hanya Rp 83,89 triliun.
Perhitungan Askolani, apabila harga minyak naik US$ 1 dolar maka tambahan defisit mencapai Rp 2 triliun dalam setahun. Begitu pula sebaliknya, kalau harga minyak turun US$ 1 dolar, maka defisit anggaran turun Rp 2 triliun.
Namun, Askolani mengingatkan, ICP bukan satu-satunya faktor. Masih ada faktor lain yang mempengaruhi defisit anggaran, yakni nilai tukar rupiah yang sekarang juga cenderung melemah.
Berdasarkan data Bank Indonesia, rata-rata nilai tukar rupiah pada kurs tengah hingga 8 Oktober 2014 mencapai Rp 11.761,62 per dollar Amerika Serikat (AS). APBN-P 2014 mematok nilai tukar Rp 11.600 per dollar AS. “Kurs agak signifikan perubahannya, sedangkan ICP tidak banyak, jadi efeknya tak seberapa,” ucapnya













