Oleh: Ricky Ekaputra Foeh – Dosen Administrasi Bisnis FISIP UNDANA Kupang dan Pengamat Ekonomi
Setiap menjelang Idulfitri, Natal, atau Tahun Baru, denyut ekonomi Indonesia meningkat tajam.
Pasar tradisional padat, pusat perbelanjaan penuh, arus mudik melonjak, dan transaksi digital mencatat rekor musiman.
Secara visual, ekonomi tampak bergairah.
Dalam struktur ekonomi nasional yang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB)-nya ditopang oleh konsumsi rumah tangga, lonjakan ini sering dibaca sebagai sinyal kesehatan ekonomi.
Namun pertanyaan mendasarnya tidak pernah sederhana: apakah keramaian konsumsi itu benar-benar mencerminkan daya beli yang menguat, atau sekadar ekspresi belanja musiman yang ditopang pencairan Tunjangan Hari Raya, tabungan jangka pendek, dan kredit konsumtif?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir relatif stabil di kisaran 5 persen.
Inflasi nasional juga berada dalam rentang target 2,5±1 persen. Secara agregat, stabilitas makro terjaga.
Nilai tukar relatif terkendali, defisit fiskal berada dalam batas aman, dan sektor keuangan cukup solid. Di atas kertas, tidak ada gejala krisis.
Akan tetapi, stabilitas makro tidak selalu identik dengan ketahanan mikro.














