Kondisi ini ujar Harry mengkonfirmasikan posisi Laporan Keuangan Asuransi Jiwasraya sejak 2008 hingga masa akhir jabatannya di Jiwasraya sangat baik.
Indikasinya, Risk Based Capital (RBC) yang tadinya minus 580 persen menjadi plus kurang lebih 200 persen.
“Itu suatu prestasi bahwa kami menghidupkan kembali mayat hidup yang sudah takkan mungkin kembali hidup ketika itu,” terangnya.
Meski kondisi Jiwasraya berangsur membaik, namun pada akhir 2018 kondisinya berbalik 100%. Hal ini dipicu oleh pengumunan gagal bayar oleh Direksi Jiwasraya yang baru.
Kondisi ini menyebabkan portofolio investasi menjadi anjlok.
Semestinya, tidak boleh terjadi gagal bayar. Apalagi, kalau Asuransi Jiwasraya harus menanggung akibat dari pengumuman gagal bayar ini.
“Jadi, sangat aneh, kalau tanggungjawab semua ada di Jiwasraya,” terangnya.
Sebab menurut Harry, saat meniggalkan Jiwasraya per-posisi Januari, Jiwasraya mencatat laba Rp 2,4 Triliun.
Namun laporang keuangan ini dikoreksi oleh kantor jasa professional terbesar di dunia, PricewaterhouseCoopers (PwC).
“Saya juga menyanyangkan kenapa saksi PwC yang mengkoreksi angka cadangan ketika itu tidak dihadirkan dalam persidangan ini,” keluhnya.
Padahal koreksi PwC ini bisa membuka sebenar-benarnya kondidi Jiwasraya pada saat itu.













