Disisi lain, kata Nando, dalam proses negosiasi tersebut bahwa Indonesia juga tidak boleh terlalu lembek, karena Presiden Prabowo Subianto juga mengingatkan hal tersebut.
“Presiden beberapa kali menyebutkan Indonesia tidak boleh tergantung pada satu negara, jadi harus bisa berdiri sendiri alias swa sembada. Artinya, proses negosiasi ini tidak boleh membuat Indonesia menjadi lunak atau lemah dihadapan negara lain,” paparnya.
Firnando kembali mengingatkan bahwa langkah negosiasi bisa dilakukan secara bilateral maupun multilateral, dan bisa dilakukan kapan saja.
“Saya menyarankan dalam bernegosiasi itu, pemerintah mengutamakan kepentingan rakyat dan kepentingan nasional, supaya mereka tidak terpukul dengan besaran tarif yang sangat tinggi,” imbuhnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirimkan surat kepada 14 kepala negara untuk memberi tahu mereka tentang tarif baru, Senin (7/7/2025). Salah satunya dikirimkan kepada Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam akun Truth Socialnya, Trump menyebut bahwa hubungan Indonesia dan AS harus dapat berjalan baik dengan perdagangan yang fair.
Trump bahkan menyebut defisit yang dialami AS dalam perdagangannya dengan Indonesia membuat hubungan kedua negara jauh dari apa yang disebutnya sebagai resiprokal.













