Geopolitik Soekarno ini merupakan ilmu kepemimpinan Indonesia bagi dunia dengan menggunakan 7 instrument of national power dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia berdasarkan konstelasi geografia.
Geopolitik Soekarno memberikan ilmu kepemimpinan dengan menggunakan the power of idea, the power of imagination, yang kemudian digalinya.
“Dari arsip ini saya menemukan bagaimana tradisi intelektual dari Soekarno yang minimal sejak muda sudah berimajinasi tentang Indonesia Raya kita,” kata Hasto.
Dia menuturkan, pada tahun 1930, memperlihatkan bagaimana Soekarno berimajinasi tentang Indonesia, yang bukan hanya dari Sabang sampai Merauke, tapi juga sampai Filipina.
“Itu gambaran cara pandang Soekarno tentang Indonesia ketika dia berusia 29 tahun berimajinasi bagaimana Indonesia itu,” ungkap Hasto.
Soekarno, lanjut dia, sejak awal memperlihatkan bagaimana cara berpikir anak bangsa bukan hanya memikirkan Jawa atau Sumatera. Tapi sudah memikirkan masa depan Indonesia untuk dunia.
“Jadi tradisi intelektual Soekarno ini sangat penting. Bagaimana sejarah nusantara dan dunia di blended dalam dialetika alam pikir,” ungkap Hasto.
Karena itu, dalam geopolitik Soekarno kita harus memiliki cara pandang yang mengintegrasikan national view dengan social view.
“Inilah suatu tradisi intelektual yang memunculkan suatu ide, imajinasi. The power of intelectual science. Mampu menggambarkan tentang bagaimana kita membentuk jati diri kita sebagai bangsa,” pungkasnya.













