Menurut Hasto, mencermati berbagai kerusakan demokrasi tersebut, ternyata Letnan Jendral TNI Purnawirawan Edy Rahmayadi memiliki kesabaran tinggi.
Baginya, Edy menunjukkan sikap yang ksatria karena membuktikan sikap infanterinya yang mottonya adalah hidup atau mati untuk negeri.
“Infanteri tidak pernah main belakang. Tidak pernah mengintimidasi rakyat, apalagi menilang rakyat,” kata Hasto.
“Pemilu Kada di Sumatera Utara sangat berbeda dengan karakter infanteri yang mengedepankan sikap kesatria. Pak Presiden Prabowo sosok kesatria, berbeda dengan satunya”, kata Hasto.
Sikap kestaria Prabowo, menurut Hasto, berbeda dengan sikap Jokowi, yang ketika ada pergantian ketum Golkar, mengatakan ‘saya tidak campur tangan’.
Padahal semua tahu campur tangan melalui hukum kekuasaan.
Hasto mengaku mendapat informasi dari Edy Rahmayadi yang menerima banyak masukan, seperti penilaian bahwa kehormatan masyarakat Sumatera Utara telah dirusak oleh ambisi kekuasaan.
“Diusulkan ‘Bagaimana kalau kita shut -down kan saja tim pemenangan kita?’. Coba bayangkan, kalau Partai Coklat dibiarkan terus bergerak, buat apa Pilkada ketika semua sudah diatur?”
“Kalau di Jawa itu ada ungkapan, ‘nguntal negara’, menelan negara, menelan kekuasaan. Bayangkan kalau Pak Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala dan seluruh tim kampanye, lalu mengatakan ‘Silahkan, daripada Pemilu sudah diatur, makan itu kekuasaan. Kau menangkan itu Sang Menantu dengan segala cara,” beber Hasto.











