Menanggapi itu, kepada Edy, Hasto menyampaikan bahwa situasi itu mirip dengan suasana tahun 1997.
Saat itu, Presiden Kelima RI Prof.Dr. Megawati Soekarnoputri tidak mau menggunakan hak pilihnya, karena Pemilu sudah diatur, dan munculah Mega Bintang.
Hasto mengatakan pihaknya mendapat laporan dari lapangan, bahwa apa yang terjadi dalam Pilpres telah diterapkan kembali.
Kecurangan yang sifatnya terstruktur, sistematis, dan masif mencoba dijalankan.
“Sekali di Sumatera Utara ini kita membiarkan berbagai kesewenang-wenangan dalam demokrasi; sekali kita membiarkan berbagai kecurangan dalam Pilkada ini, maka sama artinya dengan kita membunuh masa depan Sumatera Utara.”
“Terus berjuang bagi demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, guna melawan ambisi kekuasaan dari raja, oleh Partai Coklat, dan untuk menantu Raja,” pungkasnya












